Sudah bukan hal aneh lagi kalau di FB itu banyak akun palsu bertebaran. Biasanya, saya tidak add atau confirm pertemanan dari akun gak jelas, dengan alasan keamanan tentunya. Tapi ada juga seseorang yang membuat akun samaran walaupun maksudnya baik
Akun samaran yang saya maksud adalah saya gak tau sosok dibalik akun ini. Untuk beberapa alasan yang kita tidak tahu, si pemilik akun benar-benar menutup diri tentang kehidupan pribadinya. Bahkan, apakah si pemilik akun itu perempuan atau laki-laki saya tidak tahu.
Ada satu orang pemilik akun samaran yang saya add. Saya ingin berteman dengannya lebih memakai feeling aja. Selama ini, saya suka dengan note-note FB yang dia tulis. Suka dengan pemikiran-pemikirannya. Dan, pembicaraan kami selama ini juga lebih banyak berdiskusi walau kadang diselingi dengan candaan.
Showing posts with label lihat sekeliling. Show all posts
Showing posts with label lihat sekeliling. Show all posts
Saturday, April 19, 2014
Tuesday, December 17, 2013
Bersyukur Punya Alarm Tubuh
Berkaca dari kasus Mita Diran yang wafat setelah kerja lembur selama 30 jam nonstop membuat saya semakin bersyukur punya sesuatu yang awalnya sempat bikin saya kesal. Sesuatu yang saya maksud adalah alarm tubuh.
Kondisi fisik saya memang sudah jauh lebih baik daripada kira-kira 2,5 tahun yang lalu. Tap, kalau dibilang 100% membaik yang enggak juga. Semenjak sakit, saya sekarang gak bisa kecapean. Baik itu cape fisik atau cape pikiran. Setiap kali kecapean, 'alarm tubuh' saya berbunyi. Kondisi badan ngedrop, bagian tubuh yang sakit itu juga ikutan protes dengan kembali menimbulkan rasa sakit.
Awalnya saya sempat kesal karena punya badan, kok, jadi manja banget. Kecapean dikit sakit. Banyak pikiran sedikit, juga sakit. Tapi, lama-lama saya coba bersahabat aja. Ternyata, enak juga punya alarm tubuh. Karena seperti ada yang selalu mengingatkan saya untuk terus menjaga kondisi tubuh.
Ya, walopun harus diakui kalau saya masih suka bandel. Terutama masih suka tidur larut malam. Diatas pukul 12 malam, trus pukul 4 subuh sudah bangun. Makanya kadang masih suka sakit *jewer diri sendiri
Ada atau tidak ada alarm tubuh, memang sudah sebaiknya kita memperhatikan kebutuhan tubuh. Terutama kebutuhan utama, salah satunya adalah istirahat. Apakah teman-teman termasuk yang memperhatikan kebutuhan tubuh? Kayaknya saya juga harus mulai disiplin lagi, nih :)
Kondisi fisik saya memang sudah jauh lebih baik daripada kira-kira 2,5 tahun yang lalu. Tap, kalau dibilang 100% membaik yang enggak juga. Semenjak sakit, saya sekarang gak bisa kecapean. Baik itu cape fisik atau cape pikiran. Setiap kali kecapean, 'alarm tubuh' saya berbunyi. Kondisi badan ngedrop, bagian tubuh yang sakit itu juga ikutan protes dengan kembali menimbulkan rasa sakit.
Awalnya saya sempat kesal karena punya badan, kok, jadi manja banget. Kecapean dikit sakit. Banyak pikiran sedikit, juga sakit. Tapi, lama-lama saya coba bersahabat aja. Ternyata, enak juga punya alarm tubuh. Karena seperti ada yang selalu mengingatkan saya untuk terus menjaga kondisi tubuh.
Ya, walopun harus diakui kalau saya masih suka bandel. Terutama masih suka tidur larut malam. Diatas pukul 12 malam, trus pukul 4 subuh sudah bangun. Makanya kadang masih suka sakit *jewer diri sendiri
Ada atau tidak ada alarm tubuh, memang sudah sebaiknya kita memperhatikan kebutuhan tubuh. Terutama kebutuhan utama, salah satunya adalah istirahat. Apakah teman-teman termasuk yang memperhatikan kebutuhan tubuh? Kayaknya saya juga harus mulai disiplin lagi, nih :)
Saturday, September 7, 2013
Namanya Juga Gratis!
"Namanya juga gratis!"
Saya sering sekali mendengar, bahkan saya sendiri juga sering mengucapkan kalimat tersebut. Sebuah kalimat yang terkesan pasrah. Kalau yang namanya dapet barang gratisan, gak usah protes. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, apakah kita bisa selalu berkata seperti itu untuk sesuatu yang gratis?
Beberapa hari lalu saya pergi ke supermarket. Ketika sedang mengantri di kasir, seorang ibu yang ada di depan saya sedang melakukan protes.
"Gimana, sih, Mbak! Saya udah bolak-balik belanja di sini, tapi setiap kali saya tagih hadiahnya selalu aja dibilang stoknya sedang habis. Padahal promonya masih lama banget, masa' udah habis trus gak di stok lagi!"
Saya sering sekali mendengar, bahkan saya sendiri juga sering mengucapkan kalimat tersebut. Sebuah kalimat yang terkesan pasrah. Kalau yang namanya dapet barang gratisan, gak usah protes. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, apakah kita bisa selalu berkata seperti itu untuk sesuatu yang gratis?
Beberapa hari lalu saya pergi ke supermarket. Ketika sedang mengantri di kasir, seorang ibu yang ada di depan saya sedang melakukan protes.
"Gimana, sih, Mbak! Saya udah bolak-balik belanja di sini, tapi setiap kali saya tagih hadiahnya selalu aja dibilang stoknya sedang habis. Padahal promonya masih lama banget, masa' udah habis trus gak di stok lagi!"
Subscribe to:
Posts (Atom)