Tuesday, September 30, 2014

Tips Agar Tidak Diinvite Games Atau Aplikasi Apapun Di FB

Pernah baca status seperti ini?

Teman-teman, saya tidak main game apapun. Jadi, tolong jangan invite saya ke game apapun. Notif saya jadi penuh karena invite game. Terima kasih.

Atau status yang ini?

Saya udah bilang kalau saya gak main game apapun. Kalau masih juga diinvite, maka dengan terpaksa yang menginvite akan saya unfriend

Sebagai gamer, saya pun tersinggung bacanya. Hahahha, enggak ding. Saya gak tersinggung, kok. Cuma ada sedikit rasa khawatir. Khawatir secara gak sengaja udah menginvite teman-teman ke game yang sedang saya mainkan. Padahal saya merasa gak pernah melakukan itu, tapi kali aja ada masa dimana saya kurang hati-hati. Jadi, kalau sampai terjadi saya menginvite, itu karena faktor ketidaksengajaan. Maaf, ya.

Menurut saya, daripada melakukan cara ekstrim dengan unfriend pertemanan, ada cara lain yang lebih halus, kok. Kalau kita tidak dekat dengan orang tersebut sih cuek aja di unfriend, ya. Tapi, kalau dekat bisa-bisa hubungan silaturahmi terputus karena mungkin aja yang diunfriend tersinggung sementara kita juga merasa terganggu karena terus diinvite.

Berikut cara yang bisa dilakukan tanpa harus unfriend teman atau bolak-balik bikin status permohonan, karena belum tentu semua orang baca status kita juga.

Wednesday, September 10, 2014

Hits From The 80s & 90s

Beberapa waktu lalu, selama beberapa bulan, saya merasa sangat jenuh dengan yang namanya social media. Apalagi penyebabnya kalau bukan tentang politik yang gak cuma panas tapi juga memuakkan. Karena banyak pertengkaran di sana-sini. Bahkan yang bersahabat pun bisa bertengkar. Hufff...

Kalau aja saya bukan blogger, mungkin untuk sesaat saya akan menonaktifkan semua akun social media. Bukan berarti blogger gak boleh non aktif dari social media, lho. Cuma setidaknya social media masih bisa saya pakai untuk mempromosikan postingan terbaru. Makanya saya tetep gak menonaktifkan socmed. Gitu aja sih alasannya.

Beberapa hari terakhir ini, saya lagi betah banget FBan. Gara-gara ada grup namanya Hits From The 80s & 90s di FB. Itu grup fenomenal banget. Saya gabung disana waktu jumlah membernya masih dibawah 5000an. Dalam hitungan beberapa hari udah 40ribu lebih aja membernya. Luar biasa!

Monday, August 18, 2014

Dihakimi Itu Rasanya...

Tarik napas dalam-dalam. Menenangkan diri untuk beberapa saat. Mengendapkan tulisan, semoga saja sudah tidak terlihat emosi yang meledak di dalam tulisan ini. :)

Bagaimana rasanya dihakimi? Dinilai hanya berdasarkan 'kulitnya'. Mungkin ada yang bilang, "Santai ajaaa.. Apalagi gak kenal sama yang menghakimi." Tanpa disuruh, saya pun berkali-kali berkata seperti itu kepada diri sendiri. Tapi, ada kalanya tidak semudah itu.

Beberapa hari lalu, saya menulis review film The Great Gatsby. Salah satu film favorit saya. Menceritakan tentang milliuner misterius yang berhati tulus, tapi  kematiannya tragis. Dan, media pun menilainya hanya berdasarkan 'kulitnya'. Tidak tau kejadian yang sebenarnya tapi menghakimi.

Friday, August 8, 2014

Ke Mall Tanpa Make-Up

Pernahkah kita ke mall tanpa make up sama sekali alias polos aja gitu? Eits, ini jelas pertanyaan untuk para perempuan, ya hehe. Saya pernah. Karena saya itu dandan gimana mood. Kalau lagi semangat dandan, bisa full make up. Kalau lagi males, bisa polos aja termasuk tanpa lipstik sekalipun. Yang penting berpakaiannya gak asal-asalan :p

Pernahkah kita mendapat perlakuan yang kurang enak hanya karena gak dandan? Saya pernah. Malah gak cuma sekali tapi 3 kali! Sebetulnya, gak tau persis, sih, karena apa penyebabnya. Tapi, karena ketiga kejadian tersebut terjadi pas saya lagi gak dandan sama sekali. Jadi, saya menghubungkannya kesana. Walopun gak berarti setiap kali saya gak dandan pasti dapet perlakuan yang gak enak.

Wednesday, August 6, 2014

Siapa Butuh Siapa?

Asisten Rumah Tangga

Saya sempat mempekerjakan seorang asisten rumah tangga ketika baru melahirkan anak kedua. Alasannya, biar saya gak keteter mengasuh anak-anak. Jadi, kayaknya mulai butuh bantuan asisten. Suatu malam, saya tidak sengaja mendengar asisten saya itu sedang ngobrol dengan asisten mamah.

"Kita jangan takut kalau ditegur sama majikan. Merekalah yang butuh kita. Kalau kita gak ada pasti mereka kerepotan," kata asisten saya. Asisten mamah yang lebih lugu hanya terdengar iya-iya ajah.

Besoknya, saya menasehati dia. Saya katakan kalau kedua pihak saling membutuhkan. Saya jelas membutuhkan tenaganya. Dan, dia bekerja pasti karena membutuhkan biaya. Asisten saya itu akhirnya gak bekerja lama. Bukan karena saya berhentikan, tapi memang dia juga yang pengen berhenti. Ya, sudah lah. Saya juga rasanya sudah mulai bisa menyesuaikan lagi mengasuh anak dan mengurus rumah tanpa asisten.

Linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...